Mendengar instruksi Lynx, Leena langsung bergerak cepat menyusuri lorong yang telah dibentuk pria itu. Langkahnya ringan dan teratur, nyaris tanpa suara, matanya tajam menatap ke depan. Ia tidak menoleh sedikit pun, tak ada keraguan dalam sorot matanya.

Dia tahu betul, tak seorang pun bisa mengalahkan Lynx.

Di langit, Zephyron melayang dengan gemuruh mesin yang mengguncang udara. Armor tempurnya ramping dan aerodinamis, pelat logam berlapis bergerak mengikuti setiap gerak tubuhnya. Permukaannya memancarkan cahaya biru dari beberapa titik inti energi, sementara helmnya menampilkan antarmuka transparan berisi data dan informasi taktis yang terus bergerak cepat.

"Target utama dikunci. Kekuatan dan kecepatan mode supreme diaktifkan" gumamnya pelan, matanya menyipit saat membaca tulisan yang muncul di layar helm.

Ia memperhatikan gerakan Lynx. Pemuda itu berhasil menghindari semua rudal yang ditembakkan padanya. Bahkan pemuda itu bisa membuat bangunan besar melayang di udara dan membawanya ke tempat ini. Zephyron langsung menyadari satu hal. Ini bukan musuh biasa.

Dua laras senjata laser muncul dari bahunya. Tanpa ragu, ia melepaskan semburan cahaya merah terang yang melesat cepat membelah langit, menghantam lapisan es tempat Lynx berdiri.

Ledakan bertubi-tubi mengoyak udara. Asap pekat membumbung. Lapisan es beterbangan, serpihannya mencuat ke langit. Tapi ketika debu dan es akhirnya mereda, Lynx masih berdiri di tempatnya. Tenang. Tak bergeming.

Sistem dalam armor Zephyron berbunyi. Layar helm menampilkan bar analisis yang berkedip merah.

"ANALISIS ENERGI TARGET GAGAL."

"ESTIMASI KEKUATAN TEMPUR TIDAK TERBACA."

"PREDIKSI KEMAMPUAN TEMPUR TARGET TIDAK BERHASIL."

Zephyron menatap layar itu tajam, rahangnya mengeras.

"Mustahil" bisik Zephyron, nyaris tak terdengar.

Menyadari tidak ada gunanya menganalisa, Zephyron melanjutkan serangannya. Ia meluncur ke depan dan melepaskan puluhan rudal mini dari punggungnya. Rudal-rudal itu melesat cepat menuju Lynx, membentuk pola zig-zag sebelum meledak dengan daya panas tinggi. Ledakan bergema hebat, mengguncang gunung es di sekitar bangunan dan memicu longsoran besar yang menggoyang fondasi tempat bangunan itu berdiri.

"Dasar robot bodoh. Apa dia tidak sadar serangannya bisa membunuh rekan-rekannya sendiri yang ada di dalam bangunan itu" batin Lynx sambil menyipitkan mata.

Dengan satu hembusan napas dingin, ia meniup pecahan es yang longsor, membekukannya kembali dan menstabilkan bangunan di atasnya. Angin dingin keluar dari mulutnya, menyelimuti area tersebut dan menghentikan pergerakan longsoran.

Kanaya dan Ratih yang menyaksikan pertempuran dari kejauhan merasakan tubuh mereka gemetar. Ketegangan mencengkeram dada mereka, kecemasan memuncak seiring dentuman dan getaran yang makin mendekat.

Tanpa pikir panjang, Kanaya berlari masuk ke dalam bangunan, disusul Ratih yang panik. Mereka tahu tak ada pilihan lain selain mencari perlindungan dan berharap struktur bangunan cukup kuat menahan kerusakan.

Zephyron yang belum menyadari sepenuhnya dampak dari serangannya kembali menembakkan puluhan rudal ke arah Lynx.

Lynx menggelengkan kepala pelan.

"Sepertinya robot ini tidak peduli dengan nyawa manusia di sini" gumamnya datar.

Ia mengangkat satu tangan. Sebuah medan pelindung transparan berpendar biru terbentuk di sekelilingnya. Semua rudal terpental begitu saja, seolah hanya riak angin menghantam dinding tak kasatmata. Ledakan demi ledakan menghiasi langit, tapi tak ada yang benar-benar menyentuh target.

"BAHAYA, BAHAYA, SENSOR MENEMUKAN BANYAK MANUSIA DI DALAM BANGUNAN."

Peringatan muncul dari layar kaca dalam sistem Zephyron. Suara sistem terdengar mendesak.

Zephyron terdiam sejenak. Matanya menyipit di balik helm. Ia menyadari kesalahan besar. Fokusnya terlalu terkunci pada Lynx, sampai ia lalai memeriksa lingkungan sekitar. Warga sipil terancam, dan itu bertentangan dengan semua protokolnya.

Dengan cepat, ia mengubah taktik. Pendorong di punggung dan kakinya diaktifkan penuh. Zephyron melesat ke depan, menghantam Lynx dengan tinju logam yang diperkuat gaya dorong tinggi.

Bruaakk

Lynx menerima pukulan itu dengan sengaja. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang, tapi ia langsung menghentikan gerakannya dengan satu langkah ringan. Seolah hanya tertiup angin.

Zephyron mundur cepat. Sebuah pedang laser keluar dari lengan kirinya, dan ia langsung menyerang dari samping.

Craaang

Pedang itu menghantam keras lapisan es tempat Lynx sebelumnya berpijak. Namun Lynx telah bergerak lebih cepat, melompat ke belakang dan mendarat ringan. Sorot matanya tenang, tubuhnya tegap.

"Kurasa sudah cukup kita bermain-main" ucap Lynx datar. Tatapannya tetap waspada, sambil tetap memperhatikan keadaan Leena yang sedang menjemput Lala.

Zephyron bergerak mundur, napasnya tak terdengar, tapi ketegangan mulai tampak jelas dari sikapnya. Wajahnya di balik helm menegang.

"Aku sudah kalibrasi semua sistem untuk menghadapi metahuman kelas atas. Tapi ini... levelnya terasa jauh berbeda"

Lynx melangkah maju satu langkah. Lapisan es di bawah kakinya retak, mengeluarkan suara tajam yang menggema di udara dingin.

Zephyron terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, ada keraguan dalam sikapnya. Matanya menatap lurus, namun pikirannya mulai terpecah.

Sementara itu, di dalam bangunan saat terangkat ke udara oleh kekuatan Lynx, kepanikan menyelimuti para peneliti. Dokter Zhang berdiri di ruang kendali ketika seluruh perangkat tiba-tiba mati tanpa peringatan. Lampu padam, layar monitor gelap, dan suara mesin lenyap begitu saja. Hening yang mencekam menggantikan denting teknologi.

Beberapa detik kemudian, bangunan berguncang hebat. Seluruh ruangan bergetar, membuat para peneliti terjatuh dan berpegangan pada apa pun yang bisa mereka raih.

Bangunan itu sebenarnya telah dirancang dengan teknologi canggih dan dilengkapi beberapa sistem pembangkit listrik cadangan yang seharusnya aktif otomatis saat aliran utama terputus. Namun tanpa diketahui siapa pun, Lynx telah memotong sebagian struktur bangunan yang dianggap tidak penting, termasuk salah satu bagian pembangkit. Hal itu membuat sistem cadangan tidak bisa menyala seperti seharusnya.

"Bagaimana mungkin ada gempa di tempat ini. Bahkan jika ada, bangunan ini dilengkapi teknologi untuk meredam semua getaran" pikir Dokter Zhang. Napasnya tercekat, wajahnya tegang.

Beberapa menit berlalu. Guncangan perlahan berhenti saat Lynx meletakkan bangunan itu di atas gunung es. Salah satu teknisi berhasil mengaktifkan aliran listrik dari cadangan energi yang masih berfungsi. Lampu menyala redup, sistem perlahan aktif kembali, suara mesin kembali terdengar lirih.

Tapi semuanya sudah terlambat. Beberapa tahanan metahuman berbahaya yang sebelumnya dikurung dalam sel khusus berhasil melarikan diri saat sistem lumpuh. Mereka kini menghilang, bersembunyi entah di mana di dalam bangunan besar itu.

Leena tiba di ujung lorong. Ia tertegun. Matanya membelalak saat melihat kondisi Lala yang tidak sadarkan diri. Gadis itu terikat dalam sebuah ruangan kaca tanpa busana, dikelilingi sinar laser menyilaukan yang memancarkan panas dan tekanan.

Saat aliran listrik kembali, sistem pertahanan penjara pun ikut menyala, termasuk penguncian pada sel tempat Lala terperangkap. Di sisi ruangan, seorang wanita berdiri gemetar. Ia adalah peneliti yang tadi tengah memantau kekuatan Lala. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran, rambutnya berantakan, masih terguncang oleh ledakan akibat kekuatan tidak dikenal yang melubangi dinding bangunan.

"Lala... apa yang mereka lakukan padamu" bisik Leena dalam hati. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengepal erat.

Pandangan Leena berpindah dari sinar laser yang menahan Lala. Ia berbalik, menatap tajam wanita yang berdiri ketakutan.

"Matikan sekarang juga" serunya lantang. Matanya menyala tajam, suaranya menggema seperti cambuk yang memecah udara dingin.

Wanita itu tersentak. Wajahnya pucat pasi. Ia mundur setengah langkah, tapi tubuhnya gemetar dan tak mampu melangkah lebih jauh.

Leena melangkah mendekat, gerakannya tegas dan mengintimidasi. Aura kemarahan dan tekad terpancar kuat dari tubuhnya, menekan seperti beban tak kasatmata.

"Dengar... kalau kau tidak mau mematikannya, aku yang mematikanmu" bisik Leena dengan nada dingin dan tajam.

Dengan tangan gemetar, wanita itu menekan panel kendali. Sinar merah padam seketika. Suasana menjadi hening, hanya suara napas tertahan yang terdengar.

Leena langsung masuk. Ia melepaskan ikatan yang melilit tubuh Lala, lalu mengangkatnya dengan kedua tangan. Tubuh Lala lemas, tak sadarkan diri, kulitnya pucat dan dingin.

Tanpa membuang waktu, Leena berlari membawa Lala keluar dari lorong, mengabaikan keberadaan wanita yang diancamnya. Langkahnya cepat dan penuh tekad.

"Bertahanlah Lala, kita akan kembali ke kota Zhurong." Bisik Leena pelan sambil berlari.

